Minggu, 02 Januari 2011
HP Gaje 2
Esok paginya, rombongan Hogwarts telah sampai di tempat yang ditunjukkan oleh surat undangan sihir. Mereka semua turun dari kereta dipimpin oleh para guru dan kemudian berhenti di depan sebuah papan besar yang berhiaskan tengkorak manusia dan bertuliskan: PADEPOKAN ILMU GAIB GUNUNG MERAPI (sedang dalam renovasi, hati-hati banyak jenglot berkeliaran). Di sebelahnya ada terjemahan dalam Bahasa Inggris yang tampaknya baru saja dibuat: WIZARDRY AND BLACK MAGIC SCHOOL OF MOUNT MERAPI (renovation in progress, beware of Ugly-Looking-Long Haired- Vampiric-Living-Mini-Voodo-Doll). “Tempat yang menyeramkan, bukan begitu?” ujar Dumbledore ketika Severus Snape menghampirinya. “Ah, kurasa demikian,” Snape memicingkan matanya dan menatap puncak gunung merapi. “Kita harus menjauhkan anak- anak dari Kita-Tidak-Tahu-Siapa,” ucap Dumbledore lagi. “Ya. Dia adalah Seseorang-Yang- Namanya-Tak-Bisa-Disebut- Karena-Sekalipun-Kita-Ingin- Menyebutnya-Kita-Tidak-Tahu- Siapa-Namanya-Atau-Bahkan- Siapa-Dia, ” Snape lalu menghela nafas dan berdeham pelan. “Untuk itulah kau ada di sini, Severus.” “Jangan khawatir, anak-anak ada dalam pengawasanku. Terutama bocah itu.” Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam Padepokan, dan kini mereka menyaksikan sebuah lapangan besar yang merupakan arena pertandingan Quidditch dan pertandingan lain yang akan diadakan. Di salah satu sudut stadion, para pendukung tim Quidditch Indonesia bersorak- sorai dan membuat keributan, mereka tampak begitu brutal sehingga bagian tempat duduk mereka harus dijaga dengan segel sihir tingkat tinggi. Harry dapat melihat sekelompok supporter Quidditch yang membawa bendera bertuliskan Viking sedang adu mulut dengan kelompok supporter lain yang membawa bendera bertuliskan The Jak. Keributan mereka semakin lama semakin parah, sehingga seorang pengawas keamanan harus menyetrum mereka dengan listrik sihir bertegangan tinggi. Harry duduk di antara Severus Snape dan Dumbledore. Sejak masuk ke dalam sini ia sudah merasa tak nyaman dengan cara Snape mengawasinya, seolah- olah ia tak pernah sedetikpun melepaskan pandangannya. Di sebelah kanan Harry, Albus Dumbledore sedang mengelus- ngelus jenggotnya yang berwarna putih sambil menonton pertandingan pertama yang akan digelar. Quidditch ada di rangkaian pertandingan ke-empat, jadi Harry punya banyak waktu untuk menonton pertandingan sebelumnya. Pertandingan pertama adalah Transfigurasi, yaitu kemampuan untuk merubah diri sendiri menjadi bentuk lain, misalnya binatang--dikenal juga dengan istilah Animorph. Seorang siswa Hogwarts yang cukup berbakat maju ke tengah lapangan dan menunjukkan kemampuannya, dalam sekejap saja ia telah berubah menjadi seekor kucing hitam yang lincah. Beberapa saat kemudian, seorang siswa yang lain langsung berubah menjadi seekor kelelawar yang bisa terbang kemana-mana. Para pendukung dari Hogwarts memberikan tepuk tangan meriah, sementara para pendukung dari Indonesia tak henti mencacinya. “Siapa yang paling hebat? Padepokan Merapi yang terkuat…, ganyang Hogwarts! Ganyang Hogwarts!” begitulah bunyi yel-yel mereka. Ketika tiba giliran Padepokan Merapi, seorang anak laki-laki berumur lima belas tahun maju ke tengah lapangan dan memperkenalkan diri sebagai Ki Karang Anom. Ia lalu merapal sebuah mantra, dan seketika itu juga ia berubah menjadi sesosok makhluk. Bukan kelelawar, bukan kucing, apalagi tikus; ia berubah menjadi Tyranosaurus! Siswa- siswi Hogwarts terdiam, mereka tidak menyangka ada kemampuan seperti itu, bahkan para guru Hogwarts pun dibuat terkejut. Tidak hanya sampai disitu, Tyranosaurus itu pun berubah lagi menjadi seekor kalajengking raksasa yang tidak memiliki bayangan dan memiliki kontras warna yang berbeda dengan lingkungan sekitarnya. “Mencengangkan…,” gumam Snape. “Aku belum pernah melihat sihir semacam itu sebelumnya,” tambah Dumbledore. “Tak bisa dipercaya, seolah dibuat dengan efek komputer,” ujar Harry. Setelah pertunjukan pembuka itu, tibalah saatnya bagi Kepala Sekolah Padepokan Merapi untuk memberi kata sambutan dan ucapan selamat datang. Kepala Sekolah Padepokan Merapi ternyata adalah seorang wanita, sama tuanya dengan Dumbledore, namun memiliki wajah yang lebih menakutkan dan berpakaian serba hitam. Dumbledore seketika itu juga gemetar, begitu pula dengan Snape. Seseorang-Yang-Kita- Tidak-Tahu-Siapa ternyata adalah Mereka-Tahu-Siapa. “Wanita… wanita itu…,” gumam Dumbledore cemas, keringat menetes di pelipisnya. “Ini berbahaya. Aku tidak menyangka dialah kepala sekolahnya,” ucap Snape. “Siapa dia?” tanya Harry penasaran. “Dia adalah… Mak Lampir…,” jawab Dumbledore. “Atau dalam Bahasa Inggris dikenal sebagai, Attachment Grandma,” tambah Snape. Setelah beberapa kali melakukan check sound, Mak Lampir akhirnya memulai pidato penyambutannya. Pertama-tama, ia mulai dengan tertawa sepuas- puasnya, kurang lebih selama sepuluh menit, baru setelah itu ia mulai berbicara. “Tamu undangan dari sekolah Hogwarts yang kami hormati, senang sekali rasanya bisa menjamu kalian di sekolah kami yang megah ini. Sudah lima ratus tahun kami tidak pernah mengundang siapapun ke dalam sekolah ini, ini adalah kehormatan buat kalian. Dahulu kala, ketika negara kalian menjajah negara kami, kami sebagai para penyihir tak pernah tinggal diam. Kami selalu pro- aktif dalam menjalankan berbagai konspirasi, yang kadang berpihak kepada penguasa, kadang berpihak kepada para pejuang. Lalu setelah Indonesia merdeka, kami pun tetap berperan di balik layar, mengendalikan para penguasa, pejabat, dan infotainment. Oleh karena itu, saya selaku kepala sekolah di tempat ini, ingin memberikan satu wejangan: Jas Hitam! Jangan sekali-sekali meremehkan ilmu hitam! Hahahahaha….“ Pidato Mak Lampir ditutup dengan tertawa bersama-sama kurang lebih selama lima belas menit—itulah mengapa penjual permen pelega tenggorokan begitu laku di stadion ini— setelah itu ia pun terbang dan menghilang di balik stadion. Susunan acara selanjutnya dibacakan oleh seorang MC tamu, yaitu Laksmini Pendekar Seksi dari Gunung Lawu. Snape dan Dumbledore terlihat semakin gelisah, terlihat dari tatapan mata Snape yang semakin tajam dan Dumbledore yang mengelus jenggotnya semakin cepat. Sementara itu Harry juga tampak gugup, karena sebentar lagi ia harus bertanding Quidditch melawan penyihir- penyihir Indonesia yang tampak menyeramkan itu. “Tampaknya aku harus pergi,” ujar Snape. “Baiklah, lakukan apa yang seharusnya dilakukan,” ucap Dumbledore sambil mengelus jenggotnya dengan gerakan semakin cepat. Snape mengangguk pelan, lalu segera bangkit dari tempat duduknya. Namun sebelum ia pergi, ia menatap Harry sekali lagi, “Potter, tetap di sini, jangan pergi kemana-mana.” “Tapi sebentar lagi aku harus bertanding,” ujar Harry. “Aku tidak peduli,” ucap Snape ketus. “Profesor Dumb…?” Harry meminta pembelaan dari Dumbledore, tapi ia malah ditampar oleh Dumbledore menggunakan jenggotnya. “Jangan memanggilku begitu, itu membuatku terdengar bodoh!” “Ma.. maaf, Profesor Dumb, tapi aku terkena sihir Na…,” Harry ditampar lagi oleh jenggot Dumbledore, berkali-kali. Sementara itu, Snape langsung pergi ke belakang stadion, menuju sebuah lorong gelap yang sepi. *** Lorong itu sangat gelap dan hanya diterangi oleh cahaya lampu petromak di dindingnya, selain itu bau kemenyan terasa begitu menyegat dan memenuhi setiap bagan lorong. Ketika Snape melangkah lebih jauh lagi, ia menemukan sebuah nampan berisi makanan ringan, ayam, dan nasi. Ia bergumam pelan, menggerutu tentang bagaiman penyihir Indonesia terlalu berbaik hati kepada makhluk- makhluk sihir mereka. Gerutuan Snape berhenti ketika dari kejauhan ia melihat sesosok penyihir yang sedang ia cari-cari. “Attachment Grandma…,” ucap Snape pelan sambil menghampiri sosok Mak Lampir di lorong itu. Mak Lampir berbalik, lalu tertawa terbahak-bahak—jenis tawa yang sudah dipatenkan agar tak ditiru oleh penyihir Malaysia. Kemudian ia menatap Snape, seolah sudah begitu lama mengenalnya, begitu mendalam, begitu penuh kenangan. “Ah…, Siphilis Snake!” ucapnya. “Severus Snape!” ucap Snape kesal. Mak Lampir tertawa lagi, lalu memukul-mukulkan tongkat kepala manusianya ke atas lantai. Ia mengambil sirih dan mengunyahnya. Terkadang ia memang lebih dikenal sebagai nenek sirih daripada nenek sihir. “Ki Sanak, sudah lama kita tak berjumpa,” ucap Mak Lampir. “Aku bukan Ki Sanak!” Snape semakin kesal. Mak Lampir tertawa lagi, kali ini sampai terbatuk-batuk— tampaknya ia menelan sirihnya. “Bagaimana? Kau suka sekolahku? Mungkin sebaiknya kau pindah saja ke sini, tampangmu lebih cocok di sekolah ini,” ucap Mak Lampir, lalu tertawa, lagi. “Tempat ini, penuh dengan aroma kegelapan. Ya, mungkin cocok untukku,” jawab Snape tenang. “Hmm…, bagaimana kabar Dumb- Ble-Dore itu? Tadi aku melihatnya dari lapangan, ia masih bersama anak itu ya?” “Ya,” diam-diam Snape menyiapkan tongkat sihir di balik jubahnya, “dan sekarang aku mulai berpikir, tentang tujuanmu yang sebenarnya mengundang kami ke sini.” “Tentu saja untuk studi banding. Sekolah kami sedang berusaha untuk mendapatkan lisensi sekolah sihir standar internasional atau SSSI, makanya kami ingin studi banding dengan kalian. Tapi tampaknya kalianlah yang harus belajar dari kami,” ia tertawa lagi. “Jangan bohong kepadaku. Aku tak akan membiarkan kau menyentuh anak itu!” Snape mengeluarkan tongkat sihirnya dan akan membaca mantra, tapi ternyata Mak Lampir memiliki gerakan yang lebih cepat. “Amburadul!” ucap Mak Lampir sambil menggoyangkan tongkatnya. Seketika itu juga, sebuah sinar hijau keluar dari kepala tengkorak di tongkat Mak Lampir dan langsung menghantam Snape. Ia tersungkur dan merasakan sesuatu perubahan telah terjadi pada tubuhnya. Ia kaget bukan main ketika menyadari bahwa susunan tubuhnya telah berubah. Kaki di kepala, kepala di kaki. Mata ada di mata kaki, sementara mata kaki ada di mata. Sementara itu Mak Lampir tertawa puas, suara tawanya dapat memekakkan telinga Snape yang kini sudah berada di pantatnya. “Kau jauh lebih lemah dariku. Aku ini Date Eater, terutama saat berbuka puasa,” ucap Mak Lampir, “kau sendiri tahu bahwa kekuatanku lebih unggul, bahkan dari Voldemort sekalipun.” “Kalau memang kau sekuat dan sekejam itu, kenapa kau tidak membunuhku saja?” tanya Snape sambil mengejek. Mulutnya kini ada di dengkul. “Tentu saja karena kau masih dibutuhkan di buku Harry Potter episode selanjutnya, bodoh! Apa harus kuberikan spoiler tentang siapa yang akan membunuhmu nanti?” ucap Mak Lampir sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya. “Ja… jangan.” Mak Lampir tertawa lagi, seolah 75% waktu hidupnya ia habiskan hanya untuk tertawa— dan karena dia immortal, maka itu akan sangat lama sekali. Kemudian ia berjalan melewati Snape yang masih dalam keadaan amburadul, ia keluar menuju lapangan dimana pertandingan Quidditch sedang berlangsung, dimana Harry tengah bertanding.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar