Minggu, 02 Januari 2011

HP Gaje

Pada suatu waktu (tentunya sebelum kejadian di Harry Potter and The Deathly Hallows), sekolah sihir Hogwarts diundang untuk menghadiri open house sebuah sekolah sihir di Indonesia. Bagi penyihir-penyihir di daratan Eropa, bisa mengunjungi sekolah sihir di Indonesia merupakan suatu hal yang sangat jarang terjadi, sebab selama ini para penyihir Indonesia selalu menutup diri dari dunia luar, sehingga kesaktian mereka kerap kali menjadi misteri. Pada acara tersebut rencananya akan diadakan pertandingan- pertandingan dari berbagai macam cabang sihir dan juga pertandingan persahabatan Quidditch. Tentu saja seeker terbaik Hogwarts, Harry Potter diikutsertakan dalam pertandingan itu, bersama dengan pemain Quidditch terbaik lainnya yang dipiih dari seluruh asrama. Mereka benar- benar tak punya bayangan pemain Quidditch seperti apa yang dimiliki Indonesia, sebab olahraga ini masih terbilang asing bagi penyihir Indonesia. Kereta sihir Hogwarts terbang di atas daerah tropis di garis khatulistiwa, sementara langit malam yang gelap dapat terlihat dari jendela kereta dimana Harry, Hermione, dan Ron duduk sambil melamun. “Selamat datang di negeri eksotis,” gumam Ron, memecah lamunan mereka. “Well, aku merasa kita akan segera melihat makhluk-makhluk sihir yang tak pernah kita lihat sebelumnya,” ucap Hermione sambil membolak-balik sebuah buku tebal setebal buku telepon. “Apa maksudmu, Hormon?” tanya Harry dengan suara yang aneh. “Hermione!” protes Hermione diikuti oleh suara tawa cekikikan Ron. “Harry baru saja memakan coklat Namus Scramblus, dia tidak akan bisa mengucapkan nama orang dengan benar selama tiga hari tiga malam,” Ron menjelaskan sambil menahan tawa. “Dan kau yang memberikan coklat itu?” tanya Hermione sambil melirik pada Ron. “Not really….” “Hei, Hormon, kau belum menjawab pertanyaanku,” ujar Harry. Hermione memukul wajah Harry dengan buku tebal di tangannya sebanyak tiga belas kali, menimbulkan luka yang cukup serius, namun tidak menyembuhkan kutukan Namus Scramblus yang ada di lidah Harry saat ini. Harry hanya bisa pasrah dengan perlakuan yang ia terima sambil kemudian menangkap buku tebal itu saat Hermione melemparnya. “Hantupedia: Ensiklopedia hantu dan makhluk-makhluk sihir di Indonesia,” Harry membaca judul yang tertera di buku itu dengan lantang. “Sst… jangan keras-keras, aku merasa salah satu dari mereka akan mendatangi kita,” ucap Hermione sambil memberi isyarat dengan tangannya. Mereka bertiga memasang telinga baik-baik, berusaha mendengarkan suara-suara halus yang nyaris tak terdengar. Selain mereka bertiga, tampaknya para murid yang lain sudah tertidur lelap, sementara para guru berada di gerbong yang lain, sehingga suasana menjadi begitu hening. Di antara suara mesin kereta yang digerakan dengan tenaga sihir, terdengar pelan suara sesuatu yang bergesekan, atau lebih tepatnya seperti sesuatu yang diseret. Suara itu semakin lama semakin terdengar jelas, pertanda bahwa makhluk apapun yang membuat suara itu sudah semakin dekat dengan tempat duduk mereka. Tidak sampai satu menit kemudian, sesosok perempuan berbaju perawat lewat di samping mereka. Perempuan itu tidak berjalan, melainkan menyeret tubuhnya sendiri di lantai dengan gerakan yang pelan namun berat. Tubuh makhluk itu dipenuhi darah dan kotoran, beberapa bagian bajunya tampak terkoyak-koyak. Harry, Hermione dan Ron menatap makhluk itu sambil menahan nafas. Suasana pun menjadi tegang, sementara Hermione mengambil Ensiklopedia dari tangan Harry dan mencari-cari data mengenai makhluk itu. “Ah, ini dia. Nama makhluk itu adalah Suster Ngeshoot,” bisik Hermione. “Apa artinya?” tanya Ron sambil melirik. “Dalam Bahasa Inggris, berarti Sliding Nurse,” jawab Hermione. “Sliding Nurse?” gumam Harry, ia merasa bisa mengucapkan nama itu dengan benar, sebab itu bukan nama manusia. “Benar-benar eksotis,” gumam Hermione lagi. Di belakang makhluk itu, sesosok raksasa tinggi besar muncul dan menimbulkan suara berdebam yang keras setiap kali melangkah. Makhluk itu tercatat sebagai Buto Ijo atau The Blind Green, masih merupakan kerabat jauh dari Troll. Di belakang The Blind Green, sekelompok anak kecil berkepala botak berlarian ke sana ke mari sambil sesekali mengambil dompet para murid yang tertidur. Makhluk-makhluk itu teridentifikasi sebagai Tuyul atau Indonesian Pickpocket Dwarf, spesialisasi dalam mencuri uang. Di belakangnya lagi, seekor babi sihir sedang menggesek-gesekkan tubuhnya ke setiap pintu gerbong. Babi itu tercatat sebagai Babi Ngepet, atau dalam Bahasa Inggris dikenal dengan Itchy Boar, spesialisasi juga dalam mencuri uang—seperti orang Indonesia pada umumnya. Mereka bertiga tidak hentinya berdecak kagum saat melihat parade makhluk-makhluk sihir asal Indonesia itu. Namun mereka tak mampu lagi berdecak kagum ketika makhluk-makhluk yang lebih menyeramkan muncul, misalnya ketika Sundal Bolong atau Hollow Bitch menatap mereka dan memperlihatkan punggungnya yang berlubang penuh darah, sambil makan sate seratus tusuk. Atau ketika Child of Kunti menghampiri mereka dan mencekik Harry. “Expeliarmus!” Ron berusaha menyerang makhluk itu, tapi ternyata tidak mempan. “Tampaknya mantra semacam itu tidak berguna, kita harus mencari mantra yang lebih lokal!” ucap Hermione sambil membolak-balik halaman bukunya, sementara Harry sudah hampir mati kehabisan nafas. Setelah hampir sepuluh menit, akhirnya Hermione menemukan juga sebuah mantra lokal yang mungkin bisa ia gunakan untuk mengusir makhluk berbahaya itu. “Ini dia!” “Cepatlah! Wajah Harry sudah terlihat seperti Kau-Tahu-Siapa, begitu buruk,” ucap Ron. “A… ana kidung rumeksa ing wengi, teguh hayu huputa ing lar. Luputa bilahi jin setan datan purun, paneluhan tan ana wani miwah panggawe ala,” Hermione mengambil nafas sebelum melanjutkan mantranya, ia tidak biasa merapal mantra yang panjang dan berbahasa aneh seperti itu. Sementara itu, Harry sudah hampir mati dicekik Child of Kunti sejak sepuluh menit yang lalu, wajahnya sudah membiru dan matanya melotot, “Ho… Hormon… cepattt… cepat…,” “Gu… gu… gumaning wong luput, geni atemah tirta, maling adon tan ana ngarah ing mami, guna duduk pan sirna!” lalu Hermione mengayunkan tongkat sihirnya. Child of Kunti tertawa cekikian dengan suara yang melengking, setelah itu baru ia melepaskan tangannya dari leher Harry. Harry terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang terasa sakit bukan main, sementara itu Child of Kunti meninggalkan mereka bertiga dan bergabung dengan rombongan hantu lainnya yang sudah bergerak ke gerbong berikut. Mereka bertiga akhirnya bisa bernafas dengan lega—kecuali Harry. Untunglah setelah itu tak ada lagi rombongan hantu yang lewat sehingga mereka bisa beristirahat dan tertidur pulas. Namun sayangnya, Hermione tidak menyadari bahwa mantra yang tadi ia bacakan selain berfungsi untuk menghilangkan pengaruh sihir juga berguna untuk mempermudah jodoh. Itulah mengapa dari luar jendela kereta, Child of Kunti terus memandangi Harry tanpa berkedip….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar